Sumber Daya Alam Di Kabupaten Bandung

Diposting sama :

Kelompok 1 PLH

Date:

Selasa, 25 Agustus 2015

1 komentar
 Sumber Daya Alam

Potensi Dan Peluang Pengembangan Sumber Daya Alam 
Kabupaten Bandung merupakan bagian dari wilayah pengembangan metropolitan Bandung, yang mempunyai luas 176.239 km2 dengan jumlah penduduk 3.174.499 jiwa terdiri dari 1.617.513 laki-laki dan 1.556.986 perempuan (BPS 2010), yang merupakan hiterland serta daerah penyangga ibukota propinsi Jawa Barat. Hal ini memberikan dampak positif terhadap keleluasan dan peluang pengembangan struktur ekonomi dan aksesibilitas infrastruktur peningkatan kualitas sosial.

Batas-batas daerah adalah sebelah utara : Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Sumedang; sebelah timur : Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut; sebelah Selatan : Kabupaten Garut dan Kabupaten Cianjur serta sebelah Barat : Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur dan Kota Bandung



Wilayah Kabupaten Bandung terbagi ke dalam 31 Administratif Kecamatan yang terdiri dari 267 Desa dan 9 Kelurahan. 

    - Koordinat 107o 22’ – 108o 5’ BT dan 6o 41’ – 7o19’ LS. 
    - Ketinggian 110 – 2.429 m dpl 
    - Luas wilayah 176.239 Ha. 
   
 Kondisi Morfologis 

    - Terdiri dari wilayah datar/landai, kaki bukit, dan pegunungan
    - Kemiringan lereng beragam antara 0-8%,  8-15% hingga di atas 45%. 

Berdasarkan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027, wilayah Kabupaten Bandung dibagi kedalam 8 Wilayah Pengembangan: (1) WP Baleendah; (2) WP Banjaran; (3) WP Cicalengka; (4) WP Cilengkrang-Cimenyan; (5) WP Cileunyi-Rancakek; (6) Majalaya; (7) Margahayu-Margaasih; (8) Soreang-Kutawaringin-Katapang.
Potensi sektor pertanian hampir di seluruh Wilayah Pengembangan, sehingga kebijakan pengembangan sistem kota-kota dan wilayah diarahkan pada pengembangan kawasan pertanian, terutama di WP Soreang-Kutawaringin-Katapang, WP Baleendah, WP Banjaran, WP Majalaya, WP Cileunyi-Rancaekek, WP Cicalengka, dan WP Cilengkrang-Cimenyan

Potensi Lahan 
Lahan merupakan sumberdaya alam yang paling penting dalam usaha budidaya pertanian. Potensi Lahan di Kabupaten Bandung, terdiri dari Lahan Sawah seluas  36.212 hektar  atau 20,55%  dari luas wilayah Kabupaten Bandung (176,239 Ha),   Lahan Kering seluas  140.027 hektar (79,45 %), terdiri dari lahan kering pertanian seluas 74.778 Ha (42,43 %) dan lahan kering bukan pertanian 65.249 Ha  (37,02 %)

Lahan Sawah : 36.212 Ha 

Terdiri dari :
Lahan Kering(Darat) : 140.027 Ha 
Terdiri dari : 
Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten Bandung Tahun 2007-2027 
Luas Lahan Kabupaten Bandung Menurut Kecamatan 
Luas Lahan Sawah Menurut Kecamatan (dalam Hektar) 

Gimana SDA kabupaten bandung? Oke kan :v

Sosial , Budaya , Pariwisata , Kesenian Kabupaten Bandung

Diposting sama :

Kelompok 1 PLH

Date:

Minggu, 23 Agustus 2015

0 komentar
Perkembangan dan hasil Pembangunan di Kabupaten Bandung secara umum dapat dilihat dari beberapa indikator makro, yaitu Indikator Macro ekonomi dan Indikator Makro Sosial Budaya, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan indeks pembangunan Manusia (IPM). Berikut uraian mengenai estimasi perhitungan kedua indikator tersebut: 

Indikator Makro Sosial & Budaya 

Indikator Makro Sosial yang dijadikan penilaian keberhasilan pembangunan terdiri atas indikator makro sosial yang berasal dari Komponen Kesehatan, Komponen Pendidikan dan Komponen Agama. Indikator makro sosial masyarakat Kabupaten Bandung tahun 2008 adalah sebagai berikut: 

1. Sosial 

    Laju pertumbuhan penduduk : 2,93% 
    Angka Harapan Hidup (AHH) : 68,42  tahun 
    Angka Kematian Bayi (AKB) : 37,36 
    Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) : 52,84% 
    Rasio Ketergantungan : 52,48% 
    Angka Melek Huruf (AMH) : 98,84% 

2. Budaya 

    Masyarakat Kabupaten Bandung sebagian besar merupakan masyarakat suku sunda dengan aneka 
    khazanah kebudayaan yang dimilikinya.  
    Pluralitas yang terjadi di beberapa wilayah perkotaan dapat diterima oleh masyarakat serta hidup 
    berdampingan secara rukun dan damai. 

3. Hankam 

    Di Kabupaten Bandung terdapat beberapa instansi militer dan polisi baik pusat pendidikan maupun kesatuan 
    Terdapat KODIM sebagai Komando teritorial TNI, yaitu KODIM 0609 Bandung 
    Penanganan Kamtibmas di Wilayah Hukum Kabupaten Bandung dilaksanakan oleh Polres Soreang. 

4. Agama 

    Kehidupan beragama berjalan kondusif. Kerjasama antar umat beragama diwujudkan dalam forum 
    kerukunan umat beragama. Komposisi penduduk menurut agama & sarana peribadatan: 

    Islam : 3.983.409 orang, masjid : 5.664 buah, mushola : 8.181 buah 
    Kristen : 26.831 orang, Gereja Kristen : 7 buah 
    Katolik : 39.609 orang, Gereja Katolik : 40 buah 
    Hindu : 4.806 orang, Pura : 1 buah 
    Budha : 5.009 orang, Vihara : 1 buah 
    Konghucu : nihil

POTENSI WISATA & BUDAYA DI KABUPATEN BANDUNG 
Budaya :

-Rumah adat cikondang

Kampung Cikondang secara administratif terletak di dalam wilayah Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kampung Cikondang ini berbatasan dengan Desa Cikalong dan Desa Cipinang (Kecamatan Cimaung) di sebelah utara, dengan Desa Pulosari di sebelah selatan, dengan desa Tribakti Mulya di sebelah Timur, serta di sebelah barat berbatasan dengan desa Sukamaju

-Candi Bojongmenja

 Candi Bojongmenje atau yang lebih dikenal dengan Situs Rancaekek, merupakan komplek purbakala yang diduga merupakan peninggalan masa pra-Islam di Jawa Barat yang terletak di Dusun Bojongmenje, Kalurahan Cangkuang, Kecamatan RancaekekBandungJawa Barat. Situs ini terletak di dekat kawasan industri sehingga keberadaannya terancam

-Topeng Benjang


Seni Tari Topeng Benjang merupakan perkembangan dari seni Benjang, seni Benjang itu pun sudah dikenal oleh masyarakat Ujungberung sejak akhir abad ke-19. Sedangkan seni tari Topeng Benjang telah lahir diperkirakan tahun 1940-an,  Benjang Gulat/Gelut diperkirakan tahun 1923, dan Benjang Helaran tahun 1938. Dari ke tiga bentuk seni ini, yang paling memprihatinkan keadannya hingga saat ini adalah seni pertunjukan tari Topeng Benjang. Dan seni Topeng Benjang ini sudah tidak di pergelarkan lagi sejak pertengahan tahun 1970-an.


-Calung

 Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dariawi wulung (bambu hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).
Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan calung jinjing

-Jaipongan

Jaipongan terlahir melalui proses kreatif dari tangan dingin H Suanda sekitar tahun 1976 di Karawang, jaipongan merupakan garapan yang menggabungkan beberapa elemen seni tradisi karawang seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan lain-lain 
  

-Upacara Wuku Tahun



Wuku Tahun dilaksanakan setiap tanggal 1-14 Muharam (tahun baru Islam).
Wuku Taun berasal dari kata buku yang bermakna membuka lembaran tahun baru (Islam) dan menutup tahun lalu. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon perlindungan dari Allah Swt dan leluhur kampung, tolak bala, serta memohon keselamatan dan melestarikan tradisi gotong royong. Upacara ini dipusatkan di Bumi adat dengan doa bersama dipimpin oleh kuncen



-Pencak Cikalong

Pencak Cikalong merupakan hasil karya R.H. Ibrahim, turunan ke-9 Dalem Cikundul, Majalaya Kecamatan Cikalong Kulon. R.H. Ibrahim lahir pada tahun 1816, keahlian Pencak Silatnya didapatkan dari leluhumya. Gerak Pencak Cikalong ini, memiliki banyak gerak tangan di atas dengan sikap tertutup, hal ini memiliki kelebihan sukar untuk di jamah tangan lawan. Selain itu pukulan dan bantingan sangat di pentingkan dalam Pencak aliran Cikalong. Keistimewaannya Pencak Cikalong yaitu mengikuti serangan lawan. Maksudnya untuk menghilangkan keseimbangan lawan, sampai lawan itu terjatuh. Umpamanya, pukulan penyerang bukan di tahan (di takis) melainkan di ikuti, sehingga bobot tenaga menjadi bertambah. 




Makanan Khas :

-Karedok


Karedok atau keredok adalah salah satu makanan khas Sunda di Indonesia. Karedok dibuat dengan bahan-bahan sayuran mentah antara lain; mentimun, taoge, kol, kacang panjang, daun kemangi, dan terong. Sedangkan sausnya adalah bumbu kacang yang dibuat 
dari cabai merah, bawang putih, kencur, kacang tanah, air asam, gula jawa, garam, dan terasi.

-Batagor


Batagor (akronim dari bakso tahu goreng) adalah makanan tradisional khas Jawa Barat yang dibuat dari tahu berbalut tepung lalu digoreng

-Mie kocok bandung


Mie Kocok adalah makanan berbahan dasar mie kuning dan tauge, yang diberi kuah panas dari kaldu kaki sapi yang berasa lemaknya dan diberi toping potongan kaskus kecil. Rasanya panas dan segar, dan kalau anda pencinta pedas tinggal tambahkan sambel yang akan membuat lidah dan dahi kita berkeringat.

-Colenak


Colenak adalah singkatan dicocol enak (bahasa sunda),merupakan makanan yang dibuat dari peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian disajikan dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah. Makanan khas Bandung yang masih bertahan meski saat ini agak jarang yang menjualnya. Karena kandungan gula di dalam tape maka tape tersebut mudah gosong, meski ini adalah bagian yang terenak bagi beberapa orang.

-Lotek


Lotek hampir sama dengan pecel, yakni makanan berupa rebusan sayuran segar yang disiram dressing berupa sambal dicampur bumbu kacang. Keunikannya, sebagai bahan sambal di samping kacang seringkali ditambahkan tempe dan dalam bumbunya ditambahkan terasi, gula merah, dan bawang putih. Secara umum, lotek terasa lebih manis daripada pecel. Selain itu, kalau sambal pecel bumbu sudah dicampur sebelumnya, untuk lotek bumbu baru ditambahkan ketika akan dihidangkan. Lotek dapat disajikan dengan lontong atau nasi hangat, disertai dengan kerupuk dan bawang goreng



Suku :

 Suku Sunda


Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulauJawa, Indonesia, dengan istilah Tatar Pasundan yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, bukan di jawabarat saja melainkan Banten, Jakarta, Lampung dan wilayah barat Jawa Tengah (Banyumasan). Suku Sunda merupakan etnis kedua terbesar di Indonesia . Suku Sunda merupakan  17,8% penduduk Indonesia merupakan orang Sunda. Mayoritas orang Sunda beragama Islam, akan tetapi ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu, dan Sunda Wiwitan (Jati Sunda) etnis kedua terbesar di Indonesia 

Wisata :

Air Terjun Sindulang


Air terjun ini ada di Desa Tanjungwangi Kecamatan Cicalengka  Kab. Bandung. Jarak tempuh 8 km dari jalan .. seger dah gan

Kawah Putih


Di temukan oleh seorang Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghun pada tahun 1837, yang juga seorang pengusaha perkebunan 

Cimanggu Hot Spring Water


Kolam pemandian air panas Cimanggu berada pada ketinggian kurang lebih 1.100 m dpl yang di sekitarnya terdapat hamparan 

Ranca Upas


Obyek wana wisata Bumi Perkemahan Ranca Upas memiliki area seluas 215 ha memiliki kekayaan alam perbukitan serta hutan.

Pemandian Air Panas Walini


Bandung selatan selain terkenal dengan perkebunan teh-nya dan juga terdapat pemandian air panas, Seperti halnya Cimanggu, Walini.

Kawah Cibuni


Kawah Cibuni yang terletak di kaki Gunung Patuha temasuk di dalam kawasan Perkebunan Rancabali, afdeeling Rancabali II. 


Situ Patengan


Situ Patengan memiliki total luas cagar alamnya sekitar 123.077,15 hektar dengan luas danaunya 

Arung Jeram Sungai Cisangkuy


ARUNG JERAM  Sungai Cisangkuy terletak di Desa Lamjang Kec. Pangalengan. 

Cibolang Hot Spring Water


Cibolang dengan luas 2 Ha terletak di RPH Wayang Windu, BKPH Pangalengan, KPH Bandung Selatan. Yang secara administratif 

Pangalengan

Ingin berwisata yang mempunyai keindahan alam serta berhawa sejuk? Pangalengan adalah tempatnya. 

Situ Cileunca


Menurut sejarah Situ Cileunca merupakan kawasan pribadi seorang warga Belanda bernama Kuhlan yang dulu menetap di Pangalengan.

Perekonomian Kabupaten Bandung

Diposting sama :

Kelompok 1 PLH

Date:

Sabtu, 22 Agustus 2015

0 komentar
Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) dan Nilai Tambah Bruto (NTB)

Salah satu indikator makro Ekonomi yang menjadi acuan adalah Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE). Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bandung pada tahun 2010 mencapai 5,88 %. Jika dilihat dari pertumbuhan tiap-tiap sektor ekonomi terlihat bahwa pada tahun 2010 hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif, dua sektor yang mengalami perlambatan pertumbuhan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sektor pertambangan dan penggalian; dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami pertumbuhan sampai 8,21 %, sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan terendah yaitu sebesar 4,87 % adalah sektor pertambangan dan penggalian.



Penurunan tingkat inflasi ini terjadi di seluruh sektor perekonomian, bahkan sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami deflasi hingga 5,21% dari tingkat inflasi 9,64% pada Tahun 2008. Deflasi pada sektor pengangkutan terjadi pada sub sektor angkutan jalan raya sedangkan pada sektor komunikasi terjadi sebagai dampak dari pemberlakuan kebijakan penurunan tarif interkoneksi layanan selular pada Tahun 2008. Sektor ekonomi lainnya yang mengalami penurunan tingkat inflasi terbesar adalah sektor industri pengolahan dan sektor bangunan/konstruksi, yang masing-masing mengalami penurunan inflasi hingga 2,09% dan 2,60% dari 9,46% pada Tahun 2008.



Tingkat Inflasi

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat pula dari kemampuan penduduk dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Perkembangan barang dan jasa ini berdampak langsung terhadap tingkat daya beli dan biaya hidup penduduk. Jika harga-harga secara umum meningkat maka bisa terjadi daya beli penduduk menurun. Tahun 2010, tingkat inflasi di Kabupaten Bandung meningkat 2,51 poin, yaitu dari 3,15 % pada tahun 2009 menjadi 5,66 % pada tahun 2010. Peningkatan ini masih termasuk inflasi ringan (di bawah 10 % per tahun). Menurunnya tingkat inflasi ini juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.





Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada sektor pertanian yang mencapai 8,03 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,26 %, serta sektor jasa-jasa sebesar 6,06 %. Adapun sektor lainnya berkisar antara 1,80 – 5,59 %.

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (Pertumbuhan PDRB)

PDRB Kabupaten Bandung menggambarkan pertumbuhan ekonomi, Secara umum kondisi makro ekonomi Kabupaten Bandung, meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal itu tidak lepas dari kondisi fundamental makro yang mempengaruhi seperti Stabilitas politik dan demokrasi, dukungan kepercayaan dunia usaha dan keyakinan pada kinerja perekonomian nasional yang terus membaik membuat pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh di tahun ini. Kondisi ekonomi nasional yang positif ini berimbas pada perekonomian Kabupaten Bandung untuk tahun 2010, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bandung tercatat meningkat, dengan pertumbuhan mencapai 5,88 persen, sedang untuk tahun 2009 berkisar sekitar 4,34 persen.

Sektor yang membuat kenaikan secara signifikan diperoleh dari sektor industri. Namun perlu dicatat juga terjadi penurunan dari sektor-sektor ekonomi lainnya, yaitu pertambangan dan pengalian, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Untuk tahun 2010, PDRB Kabupaten Bandung mengalami peningkatan dibandingkan dengan PDRB untuk tahun 2009 dan tahun-tahun sebelumnya. Baik itu dilihat dari PDRB atas harga berlaku maupun PDRB atas dasar harga konstan. Untuk tahun 2010, PDRB atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan sebesar Rp 4,89 triliun, sedangkan untuk PDRB atas dasar harga konstan mengalami kenaikan sebesar Rp 1, 2 triliun. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bandung secara umum pertahun dapat dilihat dari tabel berikut :


Secara umum Pertumbuhan PDRB Kabupaten Bandung selalu mengalami peningkatan, baik itu dilihat dari PDRB ADH Konstan maupun PDRB ADH berlaku, namun pertumbuhan PDRB Kabupaten Bandung tahun 2009 mengalami penurunan itu disebabkan karena dampak Krisis global yang dialami dunia yang berimbas pada PDRB Kabupaten Bandung. Memasuki tahun 2010 PDRB Kabupaten Bandung kembali menunjukkan kondisi pertumbuhan yang normal. Kondisi ini tidak terlepas dari adanya pertumbuhan pada bagian semua sektor lapangan usaha Nilai PDRB tak lepas dari nilai-nilai PDRB persektor yang menjadi pembentuk PDRB secara umum, berikut Pertumbuhan PDRB ADH konstan dan berlaku per sektor.



PDRB Perkapita

PDRB per kapita atau pendapatan per kapita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menggambarkan tingkat kemakmuran masyarakat secara makro. PDRB Perkapita berdasarkan harga berlaku pada Tahun 2010 menunjukkan peningkatan lebih besar dibandingkan dengan PDRB per kapita berdasarkan harga konstan. PDRB per kapita berdasarkan harga berlaku mencapai Rp. 12.856.303,00, angka ini meningkat 5,01% dibandingkan Tahun 2008 yang mencapai Rp 12.242.428,00. Nilai PDRB perkapita atas dasar konstan yang menggambarkan pendapatan riil penduduk Kabupaten Bandung jika dibandingkan dengan PDRB perkapita harga berlaku hanya meningkat sebesar 0,69%, yaitu dari Rp. 6.402.393,00 pada Tahun 2008 menjadi Rp. 6.446.689,00 pada Tahun 2009.
Hal ini sejalan dengan peningkatan daya beli pada tetapi walaupun demikian peningkatan PDRB menggambarkan sepenuhnya secara riil. Kenaikan terkandung Faktor Inflasi yang sangat berpengaruh IPM pada tahun 2008 - 2010, pada perkapita yang dihitung belum daya beli masyarakat karena masih terhadap daya beli masyarakat.



Daya Beli Masyarakat

Indikator daya beli yang digunakan sebagai acuan untuk mengukur kemajuan pembangunan manusia adalah konsumsi/pengeluaran riil perkapita berdasarkan paritas daya beli dalam rupiah. Kemampuan daya beli penduduk Kabupaten Bandung tahun 2010 berada pada kisaran Rp 572.910,00 (lima ratus tujuh puluh dua ribu sembilan ratus sepuluh rupiah). Angka ini meningkat Rp 7.590,00 dibandingkan dengan tahun 2009, di mana pada tahun 2009 kemampuan daya beli penduduk Kabupaten Bandung sebesar Rp 565.320,00 (lima ratus enam puluh lima ribu tiga ratus dua puluh rupiah).

IPM merupakan salah satu indikator penting yang digunakan dalam perencanaan kebijakan dan evaluasi pembangunan, karena nilai IPM mencakup 3 tiga bidang pembangunan manusia yang diangap paling mendasar, yaitu Angka harapan hidup, pengetahuan, dan hidup layak. Nilai ini menggambarkan potret pembangunan manusia Kabupaten Bandung dari kondisi fisik manusia (kesehatan dan kesejahteraan), maupun non-fisik (intelektualitas). Pencapaian hasil IPM merupakan hasl pencapaian jangka waktu yang panjang. Peningkatan IPM pada prinsipnya merupakan perubahan pola pikir manusia, yaitu perubahan untuk semakin berperilaku hidup bersih dan sehat (Bidang kesehatan); Peningkatan intelektual (pendidikan) dan peningkatan kemampuan bersaing secara ekonomi (bidang ekonomi).

 

Secara umum nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk tahun 2010 sebesar 74,24 poin, terjadi peningkatan dari tahun 2009 yang sebelumnya 73,39 poin.

Tingkat Inflasi

Rabu, 18 Januari 2012
0 0

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat pula dari kemampuan penduduk dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Perkembangan barang dan jasa ini berdampak langsung terhadap tingkat daya beli dan biaya hidup penduduk. Jika harga-harga secara umum meningkat maka bisa terjadi daya beli penduduk menurun. Tahun 2010, tingkat inflasi di Kabupaten Bandung meningkat 2,51 poin, yaitu dari 3,15 % pada tahun 2009 menjadi 5,66 % pada tahun 2010. Peningkatan ini masih termasuk inflasi ringan (di bawah 10 % per tahun). Menurunnya tingkat inflasi ini juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Berikut gambaran keadaan tingkat inflasi dari tahun 2008-2010 adalah :


Dilihat dari sektor kegiatannya, tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 2008 - 2010 adalah:



Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada sektor pertanian yang mencapai 8,03 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,26 %, serta sektor jasa-jasa sebesar 6,06 %. Adapun sektor lainnya berkisar antara 1,80 – 5,59 %. - See more at: http://www.proxybrowser.org/browse.php?u=SmO58ETper4fbuSbLPOxr1ZYbBf8mjmqM%2BC6SvWw5mmGOSJHEwP%2BCUDR0xXCg8zOBgU%3D&b=5#sthash.KStuh8Pf.dpuf

Tingkat Inflasi

Rabu, 18 Januari 2012
0 0

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat pula dari kemampuan penduduk dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Perkembangan barang dan jasa ini berdampak langsung terhadap tingkat daya beli dan biaya hidup penduduk. Jika harga-harga secara umum meningkat maka bisa terjadi daya beli penduduk menurun. Tahun 2010, tingkat inflasi di Kabupaten Bandung meningkat 2,51 poin, yaitu dari 3,15 % pada tahun 2009 menjadi 5,66 % pada tahun 2010. Peningkatan ini masih termasuk inflasi ringan (di bawah 10 % per tahun). Menurunnya tingkat inflasi ini juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Berikut gambaran keadaan tingkat inflasi dari tahun 2008-2010 adalah :


Dilihat dari sektor kegiatannya, tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 2008 - 2010 adalah:



Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada sektor pertanian yang mencapai 8,03 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,26 %, serta sektor jasa-jasa sebesar 6,06 %. Adapun sektor lainnya berkisar antara 1,80 – 5,59 %. - See more at: http://www.proxybrowser.org/browse.php?u=SmO58ETper4fbuSbLPOxr1ZYbBf8mjmqM%2BC6SvWw5mmGOSJHEwP%2BCUDR0xXCg8zOBgU%3D&b=5#sthash.KStuh8Pf.dpuf

Tingkat Inflasi

Rabu, 18 Januari 2012
0 0

Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus berkaitan dengan mekanisme pasar. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat pula dari kemampuan penduduk dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Perkembangan barang dan jasa ini berdampak langsung terhadap tingkat daya beli dan biaya hidup penduduk. Jika harga-harga secara umum meningkat maka bisa terjadi daya beli penduduk menurun. Tahun 2010, tingkat inflasi di Kabupaten Bandung meningkat 2,51 poin, yaitu dari 3,15 % pada tahun 2009 menjadi 5,66 % pada tahun 2010. Peningkatan ini masih termasuk inflasi ringan (di bawah 10 % per tahun). Menurunnya tingkat inflasi ini juga tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Berikut gambaran keadaan tingkat inflasi dari tahun 2008-2010 adalah :


Dilihat dari sektor kegiatannya, tingkat Inflasi PDRB Kabupaten Bandung dari tahun 2008 - 2010 adalah:



Peningkatan inflasi tertinggi terjadi pada sektor pertanian yang mencapai 8,03 persen, kemudian disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 6,26 %, serta sektor jasa-jasa sebesar 6,06 %. Adapun sektor lainnya berkisar antara 1,80 – 5,59 %. - See more at: http://www.proxybrowser.org/browse.php?u=SmO58ETper4fbuSbLPOxr1ZYbBf8mjmqM%2BC6SvWw5mmGOSJHEwP%2BCUDR0xXCg8zOBgU%3D&b=5#sthash.KStuh8Pf.dpuf

Copyright © 2015 Kelompok 1 PLH Blog | KELOMPOK 1 PLH XI IPS 3|Didukung Sama Kamu :* | Designed by MeongBudiXV dan Eka